Dalam sebuah
keluarga hiduplah sepasang Suami-Istri, Pak Pendeta dan Ibu pendeta dan
anak-anak tercinta disuatu desa terpencil. Sekian lamanya mereka kelihatan
hidup tentram dan bahagia sehingga tak terasa sudah sekian tahun mereka
mengarungi bahtera rumah tangga, sifat dan karakter si suami sudah tak asing
lagi buat si istri. Begitu pula halnya sang
suami, sifat dan karakter istrinya sudah melekat erat dalam dirinya. Si suami
merasa bersyukur sekali memiliki istri seorang pendeta dan si istri juga sangat
bersyukur sekali punya suami seorang pendeta pula.
Suatu hari mereka diundang dari gereja Resort untuk mengikuti dan bertanding
KOOR di Konser terbesar gereja-gereja di Bandung, yang dikuti oleh para
pendete-pendeta seluruh gereja. dan disediakan jemputan bagi daerah-daerah yang
jauh (terpencil) dengan Bus besar, dengan syarat, untuk daerah B harus menunggu
jam sekian, disimpang B, dengan catatan siapa yang terlambat akan ditinggal,
karena Bus akan melaju dengan cepat dan kebetulan untuk daerah pak Pendeta
harus menunggu tepat jam 4 sore disimpang A karena acara akan dimulai jam 7
malam.
Demikianlah mereka saling mempersiapkan diri dari pagi, mulai dari baju,
sepatu, tas, dasi, dan perlengkapan lainnya, sempat terbersit dalam pikiran si
suami bahwa istrinya seorang yang lelet (lambat) apalagi soal berdandan bisa
sampe berjam-jam lamanya. Dan suaminya berkata kepada istrinya, "Ma, ingat
kita harus berangkat jam setengah 4, karena busnya akan datang jam 4, mama
harus persiapkan semuanya, kalau perlu kesalon, mbok ya sekarang aja, biar ndak
telat,” tapi sang istri dengan manis dan bangganya berkata, “Ndak perlu
kesalon, wong dari dulu mama dandanan sendiri , kok papa ndak tau sih???”
Sambil senyum-senyum sang suami menjawab, “Bukan begitu mam, maksudnya supaya
kamu keliatan lebih cantik dikit, beda dari yang sebelum-sebelumnya, inikan
acara besar, apalagi nanti kita para pendeta duduknya paling depan jadi ndak
malu-maluin, gitu lho”
“Mana tau pula kita
menang!“,jawab siistri dengan ketus, “Jadi maksud kamu, selama ini gue ndak
cantik!, jadi selama ini kamu bohong, dolo sebelum nikah bilangnya aku
tercantik, seksi, jadi kamu nyesel kawin sama aku!”
Sisuami kembali menjawab, “Udah deh ma, aku ndak mau berantem, inget ma kita
khan pendeta udah lahir baru lagi….chik. ..chik… chik..”
Singkat cerita tibalah waktunya mereka harus berangkat, jam sudah menunjukkan
pukul setengah 4 sore, pak Pendeta sudah bersiap-siap dan kelihatan gagah dengan
jasnya, tapi alangkah terkejutnya dia ketika masuk kamar, istrinya baru
berpakaian, belum lagi dandan, nyisir rambut dan sebagainya,
Suaminya berkata: dengan sedikit marah, dia berkata, “Mama cepetan kita hampir
terlambat!”
Istrinya menjawab: “Sebentar pa, 5 menit lagi pasti kelar, gw khan perlu
sanggulan lagi.”
Suaminya berkata lagi: “apa? sanggulan lagi? ndak perlu pake sanggul-sanggulan
lah…”
Istrinya menjawab: “Tapi biar keliatan cantik dan beda dong??? Lagian
telat-telat dikit ndak apalah paling juga busnya jam karetan, jam Indonesia khan molor-molor setengah jam….”
Dengan kesal suaminya menjawab, sambil keluar kamar dan berteriak, “Memang kamu
dari dulu lelet, lambat, ndak pernah berubah, dari dulu ampe sekarang!”
Siistri menjawab dengan berteriak pula,
"Baguslah, Tuhan Yesus aja ndak pernah berubah, dari dulu sekarang dan
selamanya tau!”
Demikianlah mereka keluar rumah jam setengah lima sore, diperjalanan sisuami
terus mengomel dengan istrinya..
"kita pasti dah terlambat, dasar lelet…..lelet. ..lambat. ..lambat.
.akhirnya mereka sampai disimpang… 5 menit….10menit mereka menunggu, tetapi
Bus tetap ndak nonggol-nongol"
Sisuami sambil kesal dan marah berkata…"Pasti busnya sudah berangkat,
ini semua gara-gara kamu…..makanya jadi orang jangan lambat tau!"
Dengan tak ragu lagi pak Pendeta pergi ke Wartel terdekat untuk menelpon
kekantor pusat pelayanan bus yang tertera di denah undangan konser itu.
Ternyata Bus yang akan menjemput mereka sudah berangkat setengah jam yang lalu,
dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju kota Bandung.
Putuslah harapan pak Pendeta, begitu marahnya dia sehingga dia hanya diam saja
seolah enggan untuk berbicara kepada istrinya, Istrinya mencoba menghibur
suaminya dan berkata, “Pa, sabar aja, kita tetep doa mudah-mudah ada mobil atau
bus yang menuju keBandung, kita pasti belum terlambat”
Sambil tetap menunggu, siistri tetap berdoa, “Tuhan gimana ini, kami mau
memujimu berikanlah transportasi yang terbaik, kami tetap menunggu disimpang
ini Tuhan, ampuni segala dosa kami….”
Belum sempat siistri mengucapkan Amin, tiba-tiba suaminya berteriak, “Ma,
cepetan ma itu ada Bus yang hendak keBandung, katanya mereka mau ikutan tanding
koor juga dikonser itu.”
Secepat kilat siistri berkata dalam hati “…..terima kasih Tuhan….Amin.
….”
Lalu mereka naik ke Bus itu dan sambil berbincang-bincang, rupanya rombongan
yang ada di Bus ini juga ikut bertanding dalam koor nanti dari rombongan gereja
lain di dekat desa mereka. Mereka mengaku bahwa mereka juga terlambat karna harus
menunggu antrian lama dipom bensin. Tiba-tiba mereka dikejutkan dalam satu
berita dipembicaraan telpon supir bus didepan, lalu supir itu berkata kepada
para penumpang, Bus No. 412 yang berangkat ke Bandung
jam 4 tadi mengalami kecelakaan jatuh kejurang yang curam, belum diketahui
berapa yang tewas dan berapa yang selamat, tapi menurut beritanya, bus dalam
keadaan menganaskan.
Pak Pendeta dengan tercenggang dan berkata kepada istrinya…. . "Ma, itu
kan bus yang akan kita tumpangi tadi…..kok bisa ya????”
Siistri dengan sedikit kurang percaya melihat kembali undangan itu, ternyata
memang benar No. 412. dan berkata kepada suaminya: " Untung pa, kita
telat, kalo ndak udah tewas".
"Tidak pikir panjang lagi, pak pendeta langsung merangkul istrinya dengan
lembut, seakan dia tidak ingin kehilangan orang yang dicintainya seumur hidup.
Dalam hatinya ia berdoa, Tuhan terima kasih, Engkau masih mengizinkan kami
untuk bersama dalam hidup ini, masih sempat lagi untuk memujiMu, terima kasih
telah memberikan istri yang terbaik bagiku, terima kasih telah memberikan istri
yang lelet kepadaku, aku bersyukur segala sesuatunya telah Engkau atur, segala
sesuatu yang terjadi untuk mendatangkan kebaikan, terima kasih telah membuka
mataku, aku akan menjaga hatiku kemanapun aku pergi, aku tak akan menodainya,
aku tak akan menyakitinya, aku tak akan meminta lebih…lebih …lebih
Tuhan…. terima kasih telah memberikan istri yang sepadan bagiku…… Amin”
Pesan Pak Pendeta :
1.Kepada mereka yang belum memiliki pasangan hidup dan yang sedang mencari
pasangan hidup: 1. Cari dan mintalah kepada Tuhan pasangan yang SEPADAN, bukan
untuk menjadi sama sepertimu, tapi untuk saling melengkapi Walaupun kita sudah
memilih yang banyak persamaan maka setelah menikah dengan segera, banyak orang menyadari bahwa mereka
menemukan banyak perbedaan seperti cerita diatas.
2. Terima apa adanya pasanganmu, sikapnya, sifatnya, termperamennya,
karakternya. Dengan mulai menerimanya bahkan sering terjadi perubahan kearah
perbaikan.
3. Kita tidak bisa merubah pasangan dengan
mencela, menuntut, mengomelinya, mengungkit-gungkit kekurangannya, Penerimaan
itu perlu, bahkan salah satu kebutuhan dasar seorang manusia. Penerimaan
membuat orang merasa bahagia, dan dari sikap hati bahagia justru muncul perbuatan-perbuatan
yang simpatik.
4. Alkitab mengajarkan bahwa, menikah untuk menjadi satu dan bukan untuk
menjadi sama, Menikah untuk saling melengkapi sehingga gambar Allah menjadi
lengkap dalam dua pribadi yang disatukan.
5. Jangan jadikan kecantikan dan kegantengan seseorang jadi the "FIRST
ONE"
tapi yang terpenting dari semua itu adalah seseorang yang engkau kasihi
benar-benar mengasihi Tuhan Yesus, sehingga apapun masalah pada pasanganmu, dia
tetap mencintai dan mengasihimu apa adanya.
Siapapun orangnya, dia tetap berharga di Mata Tuhan.